Selasa, 28 April 2015

ARTIKEL KIMIA

Disusun Oleh :
Nama  : Anton Novthiawan
Nim    : 41614120103
Mk      : Kimia




PEMBUATAN MINYAK KELAPA SECARA ENZIMATIS

LATAR BELAKANG

    Kelapa adalah tanaman yang sangat lazim ditemukan di daerah tropis, kelapa juga dikenal sebagai pohon serba guna bagi masyarakat tropika, tanaman kelapa mempunyai  manfaat sangat besar dalam kehidupan manusia sehari-hari, hampir  semua bagiannya dapat dimanfaatkan mulai dari akar, batang sampai ke pucuk dapat dimanfaatkan.
      Buah kelapa merupakan bahan dasar pembuatan minyak kelapa yang selama ribuan tahun telah digunakan sebagai minyak pangan ole masyarakat didaerah tropis, selain sebagai bahan makanan minyak kelapa juga merupakan bahan konsumsi untuk kesehatan ( health promoting uses ), bahan baku dalam industry pembuatan sabun, margarin, dan kosmetika.  Kandungan  minyak pada daging buah kelapa tua (>10 bulan) adalah 34.7% (ketaren, 1986 )
      Proses pembuatan minyak kelapa tanpa pemanasan (fermentasi/enzimatis) juga memiliki beberapa keunggulan yaitu bahan baku mudah diperoleh dengan harga murah, pengelolaan sederhana dan tidak terlalu rumit serta penggunaan energy minimal, maka proses enzimatis adalah salah satu alternative dalam pembuatan minyak kelapa.

 TUJUAN
Tujuan penelitian ini umtuk mengetahui variable mana yang paling berpengaruh pada proses pembuatan minyak kelapa secara enzimatis dan mampu menghasilkan minyak kelapa dengan kualitas yang bagus sesuai dengan standard nasional Indonesia (SNI).

BAHAN
-          - Buah kelapa ( diambil santan nya )
-          - Buah papaya muda sebagai penghasil enzim papain
-          - Ragi tempe
-          - Cuka asam

METODE DAN PEMBAHASAN
Pembuatan minyak kelapa dibagi menjadi dua cara yaitu :
1. Dengan cara kering yaitu dengan cara mengepres kopra dan mutu minyak yang dihasilkan bergantung pada kualitas kopra dan proses pemurniannya.
2    2. Dengan cara basah, minyak didapatkan dengan menjadikan kelapa menjadi santan dan kemudian dengan cara tradisional dipanaskan atau dengan teknologi yang ada yaitu fermentasi dan enzimitas. Proses pengolahan dengan cara fermentasi dan enzimitas dilakukan agar menghindari pemanasan yang berlebih saat membuat minyak kelapa dari santan. Fermentasi dan enzimitas dengan menggunakan campuran dari enzim papain pada buah pepaya muda yang sudah dihacurkan yang ditambahkan dengan asam cuka, adalah salah satu jalan keluar menghindari terjadinya pemanasan yang berlebih saat menghasilkan minyak dari santan. Menggunakan bahan-bahan ini juga tidaklah merugikan, karena enzim papain banyak terdapat dalam buah pepaya yang masih muda yang berusia sekitar 3 minggu. Getah papain juga dapat disadap dari pohon langsung dengan syarat pohon yang disadap minimal berusia 3 bulan [4].
Penelitian dilakukan dengan cara menambahkan sari buah pepaya muda yang mengandung enzim papain dengan asam cuka kedalam santan kelapa yang telah disiapkan. Kemudian membuat tiga perbandingan awal tentang jumlah sari buah dan asam cuka yang ditambahkan yaitu satu banding empat, satu banding dua dan tiga banding empat. Setelah menentukan ke tiga perbandingan tadi, langkah yang selanjutnya yaitu menentukan lama fermentasi yang akan dilaksanakan. Apakah fermentasi akan dilakukan selama dua hari, tiga hari, atau bahkan empat hari. Setelah itu dilakukan penentuan ph asam cuka yang akan dipakai dalam memaksimalkan proses fermentasi yang sudah ada. Asam cuka yang akan dipakai sebagai pembanding adalah yang memilki ph tiga, empat dan lima. Dengan melihat hasil akhir manakah yang akan membantu menghasilkan enzim paling banyak setelah fermentasi.


HASIL DAN KESIMPULAN
Hasil dari penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa enzim papain dengan campuran cuka, ternyata dapat menghasilkan minyak apa bila difermentasikan dengan santan. Dan untuk memperoleh hasil minyak yang banyak, maka perbandingan yang harus digunakan adalah perbandingan tiga banding empat. Jumlah hari yang diperlukan untuk mendapat hasil minyak yang maksimal adalah tiga hari. Kadar cuka yang digunakan untuk membantu fermentasi menggunakan enzim papain yang diperlukan adalah empat. Perlakuan dengan lama waktu dan pH awal larutan fermentasi yang berbeda setelah dianalisa secara statistik berpengaruh terhadap: pH minyak setelah fermentasi dan rendemen minyak yang dihasilkan dan tidak berpengaruh terhadap bilangan penyabunan, berat jenis minyak dan kadar air minyak. 
SUMBER ARTICLE :
  1.  eprints@undip.ac.id
  2. www.berkalahayati.org/index.php/bph/article/download/72/49
  3. digilib.unimed.ac.id
  4. eprints.uns.ac.id
  5. e-jurnalpendidikan.blogspot.com



JURNAL KIMIA
Volume 2, No 2 Tahun 2013

PENGARUH PERBANDINGAN JUMLAH STARTER TERHADAP PROSES FERMENTASI WINE APEL MENGGUNAKAN NOPKOR MZ-11




A.LATAR BELAKANG
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Kehutanan kota Batu Malang pada tahun 2010, jumlah produksi apel di kota batu yaitu sejumlah 2.574.852 pohon dengan produktivitasnya mencapai 17 kg/pohon. Tetapi dari potensi yang cukup besar tersebut petani apel di Batu ternyata hanya dapat memanen 60-70% buah apel. Hal ini di dasari karena ada beberapa buah apel yang sudah jatuh terlebih dahulu sebelum waktu panen tiba atau petani setempat biasa menyebutnya  apel reject.
Salah satu cara meningkatkan nilai tambah bagi petani apel adalah dengan memanfaatkan apel reject tersebut sebagai bahan baku pembuatan alkohol melalui proses fermentasi dan selanjutnya bisa diteruskan hingga proses aging untuk menghasilkan alkohol tersebut sebagai fruit wine dan pemanfaatan apel reject sebagai wine juga memiliki prospek yang sangat baik dimasa yang akan datang.

B.TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh perbandingan jumlah starter terhadap jumlah substrat pada pertumbuhan mikroba dan kualitas akhir alcohol, selanjutnya untuk mempelajari pengaruh waktu fermentasi terhadap pertumbuhan mikroba dalam substrat dan produksi alcohol.

C.BAHAN DAN METODE PEMBAHASAN
C.1 BAHAN
1.Apel
2.NOPKOR MZ II => Mikroba NOPKOR MZ II didapat dari Ir.R.P.Djoko Moerwono, S.U.                                                    MIkroba Ini sudah siap pakai dan terdapat SOP penggunaannya.
3.Pembuatan Starter
4.Fermentasi

C.2 METODE
Metode yang dipergunakan adalah dengan menggunakan variable jumlah starter yang ditambahkan dan waktu fermentasi sehingga diperoleh data indeks bias hasil dari proses fermentasi. Dari indeks bias tersebut dengan menggunakan kurva standard, data indeks bias dikonversi sehingga diketahui kadar alcohol dan jumlah biomassa yang terdapat dalam wine. Berdasarkan data penelitian diperoleh hasil alcohol dan pertumbuhan paling optimal diperoleh pada perbandingan jumlah starter 10% volum, hal ini disebabkan karena jumlah nutrisi yang seimbang yang diperoleh oleh mikroba sehingga pertumbuhan lebih optimal dan jumlah alcohol yang diproduksi  juga lebih tinggi. Semakin lama waktu fermentasi, maka jumlah alcohol yang diperoleh dan jumlah mikroba terus meningkat, hingga pada akhir fermentasi peningkatan terjadi tidaj terlalu pesat dan cenderung mendekati konstan, hal ini disebabkan karena mikroba sudah memasuki fase stationer sehingga pertumbuhannya tidak sepesat fase sebelumnya.

D. HASIL PENELITIAN
variabel starter  10% w/v memberikan kandungan alcohol akhir terbaik yaitu 9.4% w/v dan jumlah biomassa yang paling banyak yaitu 2.8% w/v.
semakin lama waktu fermentasi semakin besar jumlah alcohol yang diperoleh dan semakin besar juga jumlah biomassa yang terdapat dalam wine.


Sumber:


Rabu, 22 April 2015


Sistem Kesetimbangan 
Kimia

Penyusun  :
Nama        : Anton Novthiawan
Nim           : 41614120103
Nama        : Rini Fitriani
Nim           : 41614120082
Fakultas   : Teknik Industri

Universitas Mercu Buana

Sistem Kesetimbangan
Kimia

Daftar isi :
A.Peta Konsep
B.Pengertian Kesetimbangan
C.Macam – Macam Kesetimbangan
Kesetimbangan Homogen dan Heterogen
Hukum Guldberg dan Wangs
Asas Le Chatelier
D.Kemungkinan terjadinya pergeseran
E.Faktor yang dapat menggeser letak kesetimbangan
F.Contoh soal
G. Penutup



Pengertian Kesetimbangan 
—  Reaksi dikatakan dalam keadaan setimbang :
         Apabila dalam suatu reaksi kimia, kecepatan reaksi ke kanan sama dengan kecepatan        reaksi ke kiri
     Reaksi kesetimbangan dapat dinyatakan :
         
Macam – macam kesetimbangan
1. Kesetimbangan dalam sistem homogen
Kesetimbangan homogen adalah kesetimbangan kimia
dengan zat-zat yang berada dalam keadaan setimbang
mempunyai wujud zat yang sama atau sejenis.


Contohnya :
a.Kesetimbangan dalam sistem gas-gas
Contoh: 2SO2(g) + O2(g)  « 2SO3(g)
b.Kesetimbangan dalam sistem larutan-larutan
Contoh: NH4OH(aq)  « NH4+(aq) + OH (aq)

2. Kesetimbangan Dalam Sistem Heterogen
Kesetimbangan heterogen adalah kesetimbangan kimia dengan zat-zat yang berada dalam keadaan setimbang mempunyai wujud zat yang berbeda (dua fasa atau lebih).
Contoh Kesetimbangan dalam sistem heterogen :
a.Kesetimbangan dalam sistem padat gas
Contoh: CaCO3(s)  « CaO(s) + CO2(g)
b. Kesetimbangan sistem padat larutan
Contoh: BaSO4(s)  « Ba2+(aq) + SO42- (aq)

Hukum Guldberg dan Wange

Hukum ini merupakan contoh dari kesetimbangan padat larutan :
  Dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tetap, maka hasil kali konsentrasi zat-zat hasil reaksi dibagi dengan hasil kali konsentrasi pereaksi yang sisa dimana masing-masing konsentrasi itu dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah tetap.
  —Pernyataan tersebut juga dikenal sebagai hukum kesetimbangan. Untuk reaksi kesetimbangan:
Kc adalah konstanta kesetimbangan yang harganya tetap selama suhu tetap.

Azas Le Chatelier
Merupakan Asas dari Kesetimbangan dalam sistem
larutan padat gas yang berbunyi :
1. Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu menjadi sekecil-kecilnya.
   2.Perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar itu dikenal dengan pergeseran kesetimbangan

A  +  B   « C  +  D

KEMUNGKINAN TERJADINYA PERGESERAN
1.Dari kiri ke kanan,
2.Dari kanan ke kiri,

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENGGESER LETAK
KESETIMBANGAN ADALAH :
A.Perubahan konsentrasi salah satu zat
   Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen, konsentrasi salah satu zat diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu zat diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat tersebut.
Contoh: 2SO2(g) + O2(g)  « 2SO3(g)
– Bila pada sistem kesetimbangan ini ditambahkan gas SO2, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.
– Bila pada sistem kesetimbangan ini dikurangi gas O2, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.

B. PERUBAHAN VOLUME ATAU TEKANAN
Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang menyebabkan perubahan volume (bersamaan dengan perubahan tekanan), maka dalam sistem akan mengadakan berupa pergeseran kesetimbangan.


Contoh:
N2(g) + 3H2(g)  « 2NH3(g)
Koefisien reaksi di kanan = 2
Koefisien reaksi di kiri = 4


       Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperbesar (= volume diperkecil),           maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.
  
Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperkecil (= volume diperbesar), maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.

C. PERUBAHAN SUHU

Menurut Vant Hoff:



Beberapa hal yang harus di perhatikan

Jika zat-zat terdapat dalam kesetimbangan berbentuk padat dan gas yang dimasukkan dalam, persamaan kesetimbangan hanya zat-zat yang berbentuk gas saja sebab konsentrasi zat padat adalah tetap dan nilainya telah terhitung dalam harga Kc itu.
Contoh: C(s) + CO2(g)  « 2CO(g)
Kc = (CO)2 / (CO2)
Jika kesetimbangan antara zat padat dan larutan yang dimasukkan dalam perhitungan Kc hanya konsentrasi zat-zat yang larut saja.
Contoh: Zn(s) + Cu2+(aq)  « Zn2+(aq) + Cu(s)
Kc = (Zn2+) / (CO2+)
Untuk kesetimbangan antara zat-zat dalam larutan jika pelarutnya tergolong salah satu reaktan atau hasil reaksinya maka konsentrasi dari pelarut itu tidak dimasukkan dalam perhitungan Kc.
Contoh: CH3COO(aq) + H2O(l)  « CH3COOH(aq) + OH(aq)
Kc = (CH3COOH) x (OH) / (CH3COO)

Contoh Soal :
1. Satu mol AB direaksikan dengan satu mol CD menurut persamaan reaksi:
AB(g) + CD(g)  « AD(g) + BC(g)
Setelah kesetimbangan tercapai ternyata 3/4 mol senyawa CD berubah
menjadi AD dan BC. Kalau volume ruangan 1 liter, tentukan tetapan
kesetimbangan untuk reaksi ini !
Jawab:
Perhatikan reaksi kesetimbangan di atas jika ternyata CD berubah
(bereaksi) sebanyak 3/4 mol maka AB yang bereaksi juga 3/4 mol
(karena koefsiennya sama).Dalam keadaan kesetimbangan:
(AD) = (BC) = 3/4 mol/l
(AB) sisa = (CD) sisa = 1 – 3/4 = 1/4 n mol/l
Kc = [(AD) x (BC)]/[(AB) x (CD)] = [(3/4) x (3/4)]/[(1/4) x (1/4)] = 9 

    TERIMA KASIH










Jumat, 10 April 2015


     MENGENAL MINYAK KELAPA SAWIT DAN KERUSAKAN HUTAN/LINGKUNGAN
Pengusun : Anton Novthiawan
Nim         : 41614120103
Fakultas  : Teknik Industri
Universitas Mercu Buana
MENGENAL MINYAK KELAPA SAWIT DAN KERUSAKAN HUTAN/LINGKUNGAN

Kelapa sawit adalah tanaman yang hanya tumbuh di daerah tropis. Saat ini, 85% minyak sawit dunia diproduksi di Indonesia dan Malaysia. Kelapa sawit ditanam di perkebunan perusahaan skala besar dan perkebunan petani skala kecil. Ketika dikombinasikan, keseluruhan perkebunan kelapa sawit luasanmya dapat menutupi area hampir seukuran Negara Brazil. Minyak sawit atau minyak kelapa sawit adalah minyak nabati edibel yang didapatkan dari mesocarpbuah pohon kelapa sawit, umumnya dari spesies Elaeis guineensis, dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea maripa. Minyak sawit secara alami berwarna merah karena kandungan beta-karoten yang tinggi. Minyak sawit berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) yang dihasilkan dari inti buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit juga berbeda dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nucifera). Perbedaan ada pada warna (minyak inti sawit tidak memiliki karotenoid sehingga tidak berwarna merah), dan kadar lemak jenuhnya. Minyak sawit mengandung 41% lemak jenuh, minyak inti sawit 81%, dan minyak kelapa 86%.
Mengapa kita menggunakan minyak kelapa sawit?
Minyak sawit digunakan dalam banyak produk. Anda dapat menemukannya di sekitar setengah dari semua makanan kemasan. Minyak kelapa sawit adalah bahan yang unik yang digunakan dalam banyak produk karena:
  • Memiliki sifat memasak tinggi – mampu mempertahankan sifat-sifatnya bahkan dalam suhu tinggi.
  • Tekstur halus dan lembut dan tidak adanya bau membuatnya menjadi bahan yang sempurna dalam banyak resep, termasuk untuk pemanggangan (seperti biskuit) pada khususnya.
  • Memiliki efek pengawet alami yang memperpanjang umur simpan produk makanan.
  • Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan.
  • Memiliki beberapa jenis lemak jenuh asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%), dan asam palmitat (44%). Minyak sawit juga memilikilemak tak jenuh dalam bentuk asam oleat (39%), asam linoleat (10%), dan asam alfa linoleat (0.3%).
  • Seperti semua minyak nabati, minyak sawit tidak mengandung kolesterol meski konsumsi lemak jenuh diketahui menyebabkan peningkatan kolesterollipoprotein densitas rendah dan lipoprotein densitas tinggi akibat metabolisme asam lemak dalam tubuh.
  • Minyak sawit juga GMO free, karena tidak ada kelapa sawit termodifikasi genetik (GMO) yang dibudidayakan untuk menghasilkan minyak sawit.
Minyak sawit adalah bahan memasak yang umum di negara tropis di AfrikaAsia Tenggara, dan sebagian Brasil. Penggunaannya dalam industri makanan komersial di belahan negara lain didorong oleh biaya produksinya yang rendah dan kestabilan oksidatifnya ketika digunakan untuk menggoreng.
Minyak sawit juga digunakan dalam berbagai macam produk, dari margarin dan cokelat, untuk es krim, sabun, kosmetik, dan bahan bakar untuk mobil dan pembangkit listrik.
Kelapa sawit memiliki banyak keuntungan. Tanaman ini menghasilkan minyak nabati tertinggi, yang sehingga membuatnya sangat efisien. Dibutuhkan kurang dari setengah lahan yang dibutuhkan oleh tanaman lain untuk menghasilkan jumlah yang sama untuk minyak kelapa sawit. Hal ini membuat minyak sawit, minyak nabati paling mahal di dunia.
India, China, Indonesia dan Eropa adalah konsumen utama minyak sawit. Diperkirakan bahwa orang Perancis mengkonsumsi rata-rata 2 kg minyak sawit per tahun, atau 6% dari total konsumsi lemak orang dewasa berusia antara 18 – 72 tahun (sumber: Fonds Français pour l’Alimentation et la Sante, Etat des lieux , November 2012).
Pemanfaatan lainnya?
Butter Substitute
Banyak makanan olahan mengandung minyak sawit sebagai bahan baku. Sifatnya yang sangat jenuh menjadikannya padat pada suhu kamar di daerah beriklim, membuatnya menjadi pengganti murah untuk mentega, seperti pembuatan adonan kue dan dipanggang: dengan bahaya kesehatan yang lebih rendah dari bahan alternatif lemak trans terhidrogenasi sebagian.
Asam lemak
Saponifikasi menghasilkan asam lemak dengan gliserin sebagai produk sampingan. Asam lemak yang dihasilkan memiliki panjang rantai karbon antara 4 hingga 18 tergantung pada jenis minyak yang bereaksi ketika itu.
Napalm
Senyawa turunan dari asam palmitat dicampurkan dengan senyawa golongan nafta untuk memproduksi napalm, bahan peledak yang digunakan di Perang Dunia II.[34]
Biodiesel
Minyak sawit dapat digunakan untuk memproduksi biodiesel. Metil ester dari minyak sawit merupakan zat mampu bakar (flammable) yang dihasilkan dari proses transesterifikasi. Biodiesel minyak sawit seringkali dikombinasikan dengan bahan bakar lain untuk mendapatkan campuran bahan bakar. Biodiesel dari minyak sawit memenuhi standar biodiesel yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Fasilitas pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel yang terbesar berada diSingapura, yang dioperasikan perusahaan asal FinlandiaNeste Oil.
Limbah organik yang dihasilkan dari pemrosesan kelapa sawit, termasuk cangkang kelapa sawit dan tandan buah sawit, dapat digunakan untuk menghasilkan energi. Bahan bakar ini dapat ditekan menjadi briket maupun pellet bahan bakar. Minyak goreng yang telah selesai digunakan sebagai bahan baku proses penggorengan juga dapat diproses menjadi metil ester sebagai biodiesel.
Penggunaan minyak sawit pada produksi biodiesel telah memicu kekhawatiran persaingan penggunaan minyak sawit untuk makanan sehingga menyebabkan malnutrisi di negara miskin dan berkembang. Berdasarkan data dari tahun 2008 mempublikasikan laporan bahwa minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan pangan sekaligus bahan bakar secara berkelanjutan. Produksi biodiesel dari minyak sawit tidak mengancam ketahanan pangan. Peningkatan permintaan terhadap biodiesel dapat meningkatkan permintaan minyak sawit di masa depan, sehingga membutuhkan perluasan perkebunan kelapa sawit.
Bagaimana pasar minyak kelapa sawit?
Menurut Jurnal Perdagangan Minyak Dunia yang berbasis di Hamburg, pada tahun 2008 produksi global minyak dan lemak mencapai 160 juta ton. Minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit menjadi penyumbang terbesar, untuk 48 juta ton, atau 30% dari total output. Minyak kedelai menduduki posisi kedua dengan 37 juta ton (23%). Sekitar 38% dari minyak dan lemak yang diproduksi di dunia dikirim ke seluruh benua. Dari 60.300.000 ton minyak dan lemak diekspor ke seluruh dunia, minyak sawit dan inti sawit terdiri hampir 60%; Malaysia menguasai 45% dari pangsa pasar, mendominasi perdagangan minyak sawit.

Dampak negatif aktivitas perkebunan kelapa sawit


Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranyai:
1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi.
Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
2. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
3. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor
Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (Manurung, 2000; Potter and Lee, 1998).
Masihkan kita membutuhkan konversi hutan untuk menjadi kebun sawit mengingat dampak negatif yang munculkannya begitu banyak bahaya dan jelas-jelas mengancam keberlangsungan lingkungan hidup? Sebuah pertanyaan untuk kita permenungkan demi kelangsungan dan keseimbangan alam serta penghuninya.


Sekian dari saya semoga blog ini bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan untuk kita semuanya

TERIMA KASIH