Jumat, 10 April 2015


     MENGENAL MINYAK KELAPA SAWIT DAN KERUSAKAN HUTAN/LINGKUNGAN
Pengusun : Anton Novthiawan
Nim         : 41614120103
Fakultas  : Teknik Industri
Universitas Mercu Buana
MENGENAL MINYAK KELAPA SAWIT DAN KERUSAKAN HUTAN/LINGKUNGAN

Kelapa sawit adalah tanaman yang hanya tumbuh di daerah tropis. Saat ini, 85% minyak sawit dunia diproduksi di Indonesia dan Malaysia. Kelapa sawit ditanam di perkebunan perusahaan skala besar dan perkebunan petani skala kecil. Ketika dikombinasikan, keseluruhan perkebunan kelapa sawit luasanmya dapat menutupi area hampir seukuran Negara Brazil. Minyak sawit atau minyak kelapa sawit adalah minyak nabati edibel yang didapatkan dari mesocarpbuah pohon kelapa sawit, umumnya dari spesies Elaeis guineensis, dan sedikit dari spesies Elaeis oleifera dan Attalea maripa. Minyak sawit secara alami berwarna merah karena kandungan beta-karoten yang tinggi. Minyak sawit berbeda dengan minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) yang dihasilkan dari inti buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit juga berbeda dengan minyak kelapa yang dihasilkan dari inti buah kelapa (Cocos nucifera). Perbedaan ada pada warna (minyak inti sawit tidak memiliki karotenoid sehingga tidak berwarna merah), dan kadar lemak jenuhnya. Minyak sawit mengandung 41% lemak jenuh, minyak inti sawit 81%, dan minyak kelapa 86%.
Mengapa kita menggunakan minyak kelapa sawit?
Minyak sawit digunakan dalam banyak produk. Anda dapat menemukannya di sekitar setengah dari semua makanan kemasan. Minyak kelapa sawit adalah bahan yang unik yang digunakan dalam banyak produk karena:
  • Memiliki sifat memasak tinggi – mampu mempertahankan sifat-sifatnya bahkan dalam suhu tinggi.
  • Tekstur halus dan lembut dan tidak adanya bau membuatnya menjadi bahan yang sempurna dalam banyak resep, termasuk untuk pemanggangan (seperti biskuit) pada khususnya.
  • Memiliki efek pengawet alami yang memperpanjang umur simpan produk makanan.
  • Minyak sawit termasuk minyak yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Minyak sawit berwujud setengah padat pada temperatur ruangan.
  • Memiliki beberapa jenis lemak jenuh asam laurat (0.1%), asam miristat (1%), asam stearat (5%), dan asam palmitat (44%). Minyak sawit juga memilikilemak tak jenuh dalam bentuk asam oleat (39%), asam linoleat (10%), dan asam alfa linoleat (0.3%).
  • Seperti semua minyak nabati, minyak sawit tidak mengandung kolesterol meski konsumsi lemak jenuh diketahui menyebabkan peningkatan kolesterollipoprotein densitas rendah dan lipoprotein densitas tinggi akibat metabolisme asam lemak dalam tubuh.
  • Minyak sawit juga GMO free, karena tidak ada kelapa sawit termodifikasi genetik (GMO) yang dibudidayakan untuk menghasilkan minyak sawit.
Minyak sawit adalah bahan memasak yang umum di negara tropis di AfrikaAsia Tenggara, dan sebagian Brasil. Penggunaannya dalam industri makanan komersial di belahan negara lain didorong oleh biaya produksinya yang rendah dan kestabilan oksidatifnya ketika digunakan untuk menggoreng.
Minyak sawit juga digunakan dalam berbagai macam produk, dari margarin dan cokelat, untuk es krim, sabun, kosmetik, dan bahan bakar untuk mobil dan pembangkit listrik.
Kelapa sawit memiliki banyak keuntungan. Tanaman ini menghasilkan minyak nabati tertinggi, yang sehingga membuatnya sangat efisien. Dibutuhkan kurang dari setengah lahan yang dibutuhkan oleh tanaman lain untuk menghasilkan jumlah yang sama untuk minyak kelapa sawit. Hal ini membuat minyak sawit, minyak nabati paling mahal di dunia.
India, China, Indonesia dan Eropa adalah konsumen utama minyak sawit. Diperkirakan bahwa orang Perancis mengkonsumsi rata-rata 2 kg minyak sawit per tahun, atau 6% dari total konsumsi lemak orang dewasa berusia antara 18 – 72 tahun (sumber: Fonds Français pour l’Alimentation et la Sante, Etat des lieux , November 2012).
Pemanfaatan lainnya?
Butter Substitute
Banyak makanan olahan mengandung minyak sawit sebagai bahan baku. Sifatnya yang sangat jenuh menjadikannya padat pada suhu kamar di daerah beriklim, membuatnya menjadi pengganti murah untuk mentega, seperti pembuatan adonan kue dan dipanggang: dengan bahaya kesehatan yang lebih rendah dari bahan alternatif lemak trans terhidrogenasi sebagian.
Asam lemak
Saponifikasi menghasilkan asam lemak dengan gliserin sebagai produk sampingan. Asam lemak yang dihasilkan memiliki panjang rantai karbon antara 4 hingga 18 tergantung pada jenis minyak yang bereaksi ketika itu.
Napalm
Senyawa turunan dari asam palmitat dicampurkan dengan senyawa golongan nafta untuk memproduksi napalm, bahan peledak yang digunakan di Perang Dunia II.[34]
Biodiesel
Minyak sawit dapat digunakan untuk memproduksi biodiesel. Metil ester dari minyak sawit merupakan zat mampu bakar (flammable) yang dihasilkan dari proses transesterifikasi. Biodiesel minyak sawit seringkali dikombinasikan dengan bahan bakar lain untuk mendapatkan campuran bahan bakar. Biodiesel dari minyak sawit memenuhi standar biodiesel yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Fasilitas pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel yang terbesar berada diSingapura, yang dioperasikan perusahaan asal FinlandiaNeste Oil.
Limbah organik yang dihasilkan dari pemrosesan kelapa sawit, termasuk cangkang kelapa sawit dan tandan buah sawit, dapat digunakan untuk menghasilkan energi. Bahan bakar ini dapat ditekan menjadi briket maupun pellet bahan bakar. Minyak goreng yang telah selesai digunakan sebagai bahan baku proses penggorengan juga dapat diproses menjadi metil ester sebagai biodiesel.
Penggunaan minyak sawit pada produksi biodiesel telah memicu kekhawatiran persaingan penggunaan minyak sawit untuk makanan sehingga menyebabkan malnutrisi di negara miskin dan berkembang. Berdasarkan data dari tahun 2008 mempublikasikan laporan bahwa minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan pangan sekaligus bahan bakar secara berkelanjutan. Produksi biodiesel dari minyak sawit tidak mengancam ketahanan pangan. Peningkatan permintaan terhadap biodiesel dapat meningkatkan permintaan minyak sawit di masa depan, sehingga membutuhkan perluasan perkebunan kelapa sawit.
Bagaimana pasar minyak kelapa sawit?
Menurut Jurnal Perdagangan Minyak Dunia yang berbasis di Hamburg, pada tahun 2008 produksi global minyak dan lemak mencapai 160 juta ton. Minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit menjadi penyumbang terbesar, untuk 48 juta ton, atau 30% dari total output. Minyak kedelai menduduki posisi kedua dengan 37 juta ton (23%). Sekitar 38% dari minyak dan lemak yang diproduksi di dunia dikirim ke seluruh benua. Dari 60.300.000 ton minyak dan lemak diekspor ke seluruh dunia, minyak sawit dan inti sawit terdiri hampir 60%; Malaysia menguasai 45% dari pangsa pasar, mendominasi perdagangan minyak sawit.

Dampak negatif aktivitas perkebunan kelapa sawit


Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranyai:
1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi.
Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
2. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
3. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor
Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (Manurung, 2000; Potter and Lee, 1998).
Masihkan kita membutuhkan konversi hutan untuk menjadi kebun sawit mengingat dampak negatif yang munculkannya begitu banyak bahaya dan jelas-jelas mengancam keberlangsungan lingkungan hidup? Sebuah pertanyaan untuk kita permenungkan demi kelangsungan dan keseimbangan alam serta penghuninya.


Sekian dari saya semoga blog ini bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan untuk kita semuanya

TERIMA KASIH


Tidak ada komentar:

Posting Komentar